NILAI EKONOMI TUMPANG SARI PADA HUTAN RAKYAT (Studi Kasus di Kawasan Hutan Rakyat Tembong Podol Desa Rambatan Kecamatan Ciniru Kabupaten Kuningan)

Asep Sigit Pranamulya, Oding Syafruddin Syafruddin, Wawan Setiawan

Abstract


Tujuan penelitin ini adalah untuk mengetahui seberapa besar nilai ekonomi yang dihasilkan dari komoditi tanaman tumpang sari dan mengetahui profil usaha tumpang sari pada lahan hutan di hutan rakyat Tembong Podol Desa Rambatan Kecamatan Ciniru. Metode pengumpulan data dikumpulkan dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti, survey lapangan dan pengukuruan objek yang diteliti. melakukan tanya jawab secara langsung terhadap responden, pejabat setempat dan pemimpin formal maupun informasi desa. Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan/kuisioner terstruktur dan tidak terstruktur mengenai hal-hal yang masih berhubungan dengan penelitian. Pendapatan yang dihasilkan dari tanaman tumpang sari oleh petani tidak memiliki acuan tertentu dalam menentukan besarnya nilai rupiah yang dihasilkan, karena jumlah tanaman yang di tanam serta lahan garapan yang menjadi ruang hidup bagi tanaman tumpang sari tidak selalu berubah-ubah sesuai dengan pola tanam yang digunakan. Oleh sebab itu perhitungan nilai pendapatan dari tanaman tumpang sari hanya dapat di perkirakan melalui hasil panen yang sudah ada. Usaha Hutan Rakyat di lokasi penelitian yang ditumpangsarikan dengan beberapa komoditi seperti bawang, jahe, mangga, singkong dan jagung telah menambah penghasilan bagi petani untuk setiap musim tanamnya. produksi untuk jenis komoditas yang paling besar adalah jenis Jahe yaitu sebesar 921,88 Kg/Ha dengan pendapatan sebesar Rp 921.875/Ha Sedangkan untuk jenis komoditas dengan produksi paling rendah adalah jenis jagung dengan jumlah produksi sebesar 363,64 Kg/Ha dengan pendapatan sebesar Rp 909.091/Ha. Terdapat 7 jenis tanaman tumpang sari yang di garap oleh 11 orang petani desa Rambatan pada lahan hutan rakyat di peroleh pendapatan bersih dari komoditi tumpang sari tersebut sebesar Rp 60.180.000 setiap satu kali musim panen. Komoditi terbesar berasal dari jenis tanaman bawang, yaitu sebsar Rp 30.500.000 dan komoditi terendah berasal dari jenis tanama singkong yaitu sebesar Rp 250.000.

Kata Kunci : Ekonomi, Hutan Rakyat, Tumpang Sari, Komoditas


Full Text:

PDF

References


Abidin et al. 1990. Sistem Pengelolaan Hutan Rakyat. Lembaga Penelitian IPB. Bogor. Bishop, J.T. 1999. Valuing Forests : A Review of Methods and Applications in Developing Countries. International Institute for Environment and Development. London. Davis, L.S dan Johnson K.N. 1987. Forest Management 3 rd Edition. Mc Graw- Hill Book Company. New York. Departemen Kehutanan. 1996. Materi Penyuluhan Kehutanan I. Departemen Kehutanan Pusat Penyuluh. Jakarta.

Hayono, J. 1996. Analisis Pengembangan Pengusahaan Hutan Rakyat di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah. Tesis. IPB. Bogor. Munasinghe, M. 1993. Environmental Economics and Sustainable Development. The World Bank. Washington DC. Prabowo, S. A. 1999. Sistem Pengelolaan dan Manfaat Ekonomis Hutan Rakyat. Skripsi Jurusan MNH Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Tidak Dipublikasikan. Syafrudin, O. 2011. Catatan Ekonomi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Universiatas Kuningan. Kuningan. Sinar Grafika. 1999. Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 41 Tentang Kehutanan. Jakarta. Wirakusumah, S. 2003. Mendambakan Kelestarian Sumberdaya Hutan bagi Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Worrel, A.C. 1959. Economics of American Forestry. John Wiley & Sons, New York.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.